Sabtu, 30 Maret 2013

Ingin Tahu Perkembangan Pemanfaatan Herbal Terkini (2) ?

,

<img src="Obat Kimia.jpg" alt="Produk Perusahaan Farmasi">

Artikel Ingin Tahu Perkembangan Pemanfaatan Herbal Terkini (2) ini adalah lanjutan dari artikel Ingin Tahu Perkembangan Pemanfaatan Herbal Terkini. Silahkan baca dahulu artikel pertama tersebut bagi Anda yang belum membaca, dan saya sampaikan kembali bahwa seandainya Anda dapati nama produk atau Perusahaan Farmasi yang saya sebutkan di halaman ini, tentu saja hal ini bukan promosi atau pesan sponsorship.

Baiklah...
Anda telah membaca pada bagian pertama tentang fenomena pemanfaatan herbal terkini oleh sebagian perusahaan farmasi. Kita akan lanjutkan ulasan tersebut.


Perusahaan Farmasi Ekspansi Bisnis Jamu

<img src="stimuno.jpg" alt="Stimuno Produk Dexa Medixa">
Stimuno (Dexa Medica)

Anda pernah mengonsumsi produk di samping ini atau sekedar pernah melihatnya saja? Stimuno, produk herbal Perusahaan Farmasi Dexa Medica ini mengandung ekstrak herbal Meniran. Produk ini mulai menyambangi pasar sejak 1999 untuk menjajal kategori Imunomodulator.

Pada Agustus 2006, Dexa Medica meluncurkan Toxilite. Produk ini mengandung ekstrak Temulawak dan Lecithin Kedelai untuk suplementasi Hati. 

<img src="toxilite.jpg" alt="Toxilite Produk Dexa Medixa">
Toxilite
<img src="vitafem.jpg" alt="Vitafem Free Me Produk Dexa Medixa">
Vitafem Free Me

Seakan tak lupa pasar potensial lain, Mei 2012 lalu Dexa Medica mengorbitkankan Vitafem Free Me. Produk yang seolah dikhususkan untuk wanita ini mengandung ekstrak Mahkota Dewa untuk mengatasi nyeri saat menstruasi. Apakah para pria tidak boleh mengonsumsi produk ini? Jangan berpikir begitu. Anda tahu kandungannya bukan? Insyaalloh bila ada kesempatan saya ingin mengulas manfaat herbal  Mahkota Dewa.

<img src="glucogard.jpg" alt="Glucogard Produk Phapros">
Glucogard
Berikutnya kita akan lihat jajaran produk berbahan baku herbal apa yang telah ditelurkan perusahaan farmasi Phapros. Perusahaan ini mempunyai produk herbal antara lain Glucocard yang mengandung ekstrak Buah Pare (Hmm.. Sayur atau Buah?) dan Ekstrak Daun Mengkudu untuk penderita diabetes. Namun ketika saya yakinkan produk ini di laman resmi Phapros, saya tidak bisa menemukan product knowledge-nya. Selain itu ada juga Hepagard yang mengandung Sylimarin (dari ekstrak Buah Cardui mariae),  ekstrak daun Cynarae, dan ekstrak rimpang Kunyit, didedikasikan untuk mengatasi problem gangguan fungsi hati. Ada juga Tensigard, yang mengandung ekstrak herbal Apii, dan ekstrak daun Orthosiphon, untuk mengatasi masalah hipertensi. Masih ada beberapa produk lain, seperti Ocugard dan Hemorogard. 
<img src="hepagard.png" alt="Hepagard Produk Phapros">     <img src="tensigard.png" alt="Tensigard Produk Phapros">

<img src="asifit.png" alt="Asifit Produk Kimia Farma">
Asifit (Kimia Farma)
Beralih ke Perusahaan Farmasi BUMN, Kimia Farma yang belakangan ini (dan dahulu pernah) diberitakan akan merger dengan BUMN Farmasi lain. Tahun 2007, Kimia Farma meluncurkan Asifit yang mengandung serbuk simplisia kering Daun Katuk untuk membantu meningkatkan produksi ASI. Agak mengherankan memang, karena selama ini yang saya pahami Badan POM memberikan nomor registrasi untuk produk berbahan baku herbal yang diekstraksi. Mungkin, nomor registrasi tersebut untuk produk-produk lama yang belum tersentuh ketentuan ekstraksi simplisia. (Silahkan baca tulisan saya tentang Haruskah Mengekstrak Simplisia Herbal?)

Sebenarnya masih banyak produk-produk yang berbahan baku herbal yang belum bisa saya tampilkan. Lagipula jika terlalu banyak produk, saya khawatir tulisan ini nampak seperti kontes produk. Padahal belum ada satupun dari pabrikan tersebut yang menyatakan kesediaannya membayar tulisan saya (he..he..). Tidak mengapa, karena saya punya motivasi sendiri membuat tulisan ini.


Ada Apa Denganmu, Perusahaan Farmasi...

Ada keinginan untuk mengupas latar belakang mengapa Perusahaan Farmasi melakukan ekspansi bisnis herbal. Meskipun saya tidak mampu menyebutkan keseluruhan dan rinci, setidaknya bagian-bagian penting akan saya tampilkan untuk Anda.

1. Profitable

Usaha dan perusahaan, dua kata yang tak lepas dari profit. Tentu hal ini tak bisa diingkari. Bahkan dua kata lain semacam Promosi dan Program Sosial yang 'kadang' makna salah satu kata menindih kata yang lain, pun (bisa jadi) tak lepas dari motif profit. Sementara sesuatu yang menguntungkan secara materi, umumnya memiliki pangsa pasar yang bagus.

Pun dengan industri jamu, pangsa pasar ranah ini di negeri kita sangat bagus. Masyarakat kita telah siap untuk menerima produk-produk herbal. Sementara kesiapan ini memperoleh dukungan pemerintah yang besar untuk memanfaatkan herbal. 


<img src="http://www.hanyasekedarinformasi.com/2012/09/kembali-ke-alam.htm" alt="Kembali ke Alam - Back to Nature">
Kembali ke Alam
Saya katakan masyarakat telah siap menerima produk herbal, tentunya ini bukan omong kosong semata. Pernahkah Anda memperhatikan jargon-jargon semacam 'Kembali Ke Alam', 'Hidup Sehat Alami', 'Gaya Hidup Sehat', 'Makanan Organik' dan semisalnya di sekitar Anda? Pernahkah Anda mendengar atau melihat ada demonstrasi atau penolakan masyarakat terhadap jargon-jargon tersebut? Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Di sisi lain, masyarakat telah biasa mengonsumsi jamu, bahkan ada yang bersikap ekstrim menolak obat-obatan kimia.

Pemerintah pun melalui Kemenkes sangat mendukung pengembangan Pemanfaatan Herbal, seperti pengembangan Klinik Saintifikasi Jamu, Pelatihan Tenaga Kesehatan (Dokter, Perawat dan Apoteker) Saintifikasi Jamu, regulasi pengurusan ijin Battra (Pengobatan Tradisional). Bahkan di Karanganyar, Dinas Kesehatan Kabupaten menyiapkan satu orang tenaga pengobatan herbal di Puskesmas di setiap kecamatan. Ini belum mencakup bantuan Pemerintah untuk Penelitian Herba.


<img src="otc.jpg" alt="Obat Bebas - Over The Counter">
Obat Bebas - Over The Counter
Kembali ke tema... Saya katakan dunia herbal, bisnis jamu, bisnis herbal adalah ranah yang saat ini profitable. Saya belum menemukan referensi adanya Perusahaan Jamu di negeri Barat. Di sana Pemanfaatan Herbal dieksplorasi oleh Perusahaan Farmasi. Tentu hal ini membawa angin segar bagi Perusahaan Farmasi di tanah air untuk ikut mengeksplorasi bisnis herbal. Sayap bisnis mereka lebih luas. Mereka bisa menjangkau area obat bebas OTC (Over The Counter) yang bisa dibeli tanpa resep dokter, sebagaimana area ini dimiliki  oleh Perusahaan Jamu. Anda pernah menemukan produk di samping? Banyak produk serupa produk ini dari sisi kategori produk, herbal utama yang digunakan, maupun kemasan yang diproduksi oleh Perusahaan Jamu.

Perusahaan Farmasi pun bisa merambahi area obat yang diresepkan dokter. Obat berbahan baku herbal golongan ini mempunyai kekhasan sifat antara lain: berbahan baku herbal diramu dengan bahan kimia, atau mengandung bahan baku herbal 'terlarang', atau memerlukan keahlian tenaga medis dalam penggunaannya. Sebagai contoh : Bellaphen (Soho) yang mengandung alkaloid Belladona untuk mengatasi migrain, Fitocassol (Kimia Farma) yang mengandung isolat Pegagan untuk mengatasi keloid, Madecassol (Corsa, Roche Nicholas, Serdex) yang mengandung ekstrak Pegagan (juga) untuk mengatasi keloid, Borraginol (Takeda) yang mengandung ekstrak akar Lithospermi untuk mengobati hemoroid, dan Ginkgoforce (Ikapharmindo) yang mengandung ekstrak Gingko biloba untuk mengatasi gangguan sirkulasi perifer dan otak. 


2. Terpaksa

Yang benar saja... Setelah membaca tulisan saya tentang Profitable, apakah mungkin ada Perusahaan Farmasi yang 'terpaksa' menjalani bisnis herbal? 

Saya katakan : Bisa saja, tergantung modalitas dan kesempatan yang mereka miliki. Seperti kasus yang menimpa Soho. Era Krisis Moneter (1998) banyak Perusahaan Farmasi tanah air limbung karena nilai dollar melambung, bahan baku obat kimia sangat mahal. 'Terpaksa' Soho harus berani mengambil resiko untuk bertahan hidup dengan memperluas core bisnis dengan mencoba pasaran herbal. Tentang hal ini, saya rasa telah ada yang membuat tulisan detilnya. Yang jelas mereka mengaku 'terpaksa' mencoba pasaran herbal.


3. Dukungan Penelitian

Dukungan Penelitian berbasis Pemanfaatan Herbal sangat berarti bagi Perusahaan Farmasi, setidaknya Perusahaan Farmasi bisa menghemat waktu penelitian bahkan bila memungkinkan bisa menekan anggaran penelitian mereka. Sekedar contoh kasus saja tentang keberadaan Pusat Studi Obat dan Bahan Alam - PSOBA (Center for Natural Product Medicine Studies). Beberapa hasil riset yang dilakukan PSOBA Universitas Indonesia dimanfaatkan oleh Perusahaan Farmasi.  Kabar terakhir yang saya sempat ketahui adalah pengembangan formula Diapet NR untuk Soho dan Blood Care untuk Darya Varia. Banyak 'menu' penelitian yang disajikan PSOBA (tentu saja berikut pembiayaan yang diperlukan), seperti: Uji Khasiat, Uji Toksisitas, Uji Toksisitas Akut dan beberapa 'menu penelitian' lain.


Nasib Bisnis Jamu Konvensional ...

<img src="bonus iklan.jpg" alt="Konsultasi di www.ahlan24.com">Saya hanya ingin bertanya, sudah siapkah para pelaku bisnis konvensional dan pengusaha kecil herbal menghadapi gempuran Perusahaan Farmasi? Saya berharap semoga tulisan ini memacu mereka untuk memperbaiki kualitas produk herbalnya... Yang pasti rezeki itu Alloh yang menentukan.

Baiklah... Selanjutnya, ada baiknya Anda membaca Benarkah Herbal Aman Tanpa Efek Samping?
<img src="seal.gif" alt="http://www.copyrighted.com/copyrights/view/zml4-zp6o-5kut-1oji">




Read more →